Minggu ini, Senin 14 Februari biasa dikenal sebagai "Hari Kasing Sayang" atau "Hari Valentine". Sekalipun bukan suatu hari raya agamawi atau hari besar nasional, hari ini biasa dirayakan oleh masyarakat umum di berbagai belahan dunia, khususnya pasangan-pasangan muda. Sayangnya perayaan "Hari Kasih Sayang" tersebut seringkali terdegradasi maknanya menjadi sekadar perayaan bagi mereka yang sedang memadu kasih/berpacaran belaka, lengkap dengan segala pernak-perniknya yang ramai dijajakan. Perayaan ini sebenarnya terinspirasi dari beberapa tokoh martir dalam sejarah Gereja yang bernama Valentine/Valentinus (jadi bukan hanya ada satu orang seperti biasa kita kenal selama ini, lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Valentine%27s_Day dan http://en.wikipedia.org/wiki/Saint_Valentine, yang memberikan hidupnya karena kasihnya kepada orang lain khususnya mereka yang lemah dan terpinggirkan. Namun dalam gelombang kapitalisme dan konsumtivisme, perayaan ini memang menjadi sebuah "komoditi" yang menggiurkan untuk mendorong orang membelanjakan uangnya.
Padahal kalau kita berkaca dari situasi dunia akhir-akhir ini, bahkan situasi Indonesia secara khusus, semangat berbagi dan mengasihi orang lain, khususnya mereka yang lemah dan terpinggirkan sebenarnya sedang mendapat tantangan yang besar. Ketika kita mendengar, membaca, bahkan mungkin mensaksikan peristiwa-peristiwa kekerasan yang bahkan mengambil korban manusia, atas nama "kebenaran agama". Betapa manusia bisa kehilangan kasih sayang dan akal sehat demi apa yang diyakininya sebagai "kebenaran", bahkan sekalipun tindakan kekerasannya itu sebenarnya tidak sejalan dengan "kebenaran" yang diyakininya. Tapi kita patut bersyukur pula bahwa di tengah-tengah keprihatinan tersebut kita menemukan juga cerita-cerita solidaritas dan kepedulian, bahkan dari mereka yang berbeda keyakinan, untuk menolong, membantu bahkan membela mereka yang sedang tertindas dan teraniaya. Di situlah kasih sayang kepada manusia terwujud, melampaui batasan-batasan yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Kasih sayang, yang kita yakini juga telah diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus lewat karya keselamatan-Nya.
Mari, sekalipun kita tidak merayakan "Hari Kasih Sayang" dalam hidup bergereja kita, tapi kita berusaha keras mewujudkan kasih sebagaimana sudah Tuhan Yesus teladankan dalam hidup kita sehari-hari. Kasih yang menembus batas, kasih yang membela mereka yang lemah, teraniaya, terpinggirkan. Selamat hari kasih sayang
sumber : http://www.gkigi.com



0 komentar:
Posting Komentar